NewsBMB Tue, 24 September 2019
KOLOM PEMBACA

Dunia Tanpa Media Sosial

img

Meningkatkan interaksi dengan kelompok-kelompok sosial di sekitar kita atau bahasa gaulnya berupa kopi darat tanpa gawai. Tetangga, suami atau istri, anak, orang tua yang dapat dijangkau dengan mudah, kelompok pengajian, diskusi warung kopi, dan banyak lagi kelompok sosial sebenarnya yang banyak berseliweran di sekitar kita. Melatih dengan tabah, diri ini untuk meningkatkan rasa tidak ketergantungan pada pertemanan mobile/maya yang banyak menyita waktu. Setiap kali kopi darat mencoba menjauhkan diri/berpuasa menggunakan gawai jika berinteraksi dengan kelompok sosial yang ada di sekitar kita. Menggunakan pilihan telpon untuk berkomunikasi dengan makhluk sosial yang berada lebih jauh dari jangkauan.

Kejadian padam listrik Jakarta dan sebagian Jawa beberapa waktu silam menyisakan kisah tentang dunia tanpa media sosial. Seperti dua sisi koin, selalu ada sisi positif dan negatif yang tercipta. Ada yang berkisah jadi lebih akrab dengan tetangga, romantisme dan bercumbu dengan keluarga terkasih, berkisah di depan rumah, di bawah terang lampu komplek dan rembulan. Silaturahmi yang tersekat oleh tembok dan tingginya pagar rumah-rumah kota, lumpuh bersama dengan listrik di Ibu Kota dan Pulau Jawa. Para online shop/pelaku bisnis yang memanfaatkan media sosial (tidak menafikan pelaku bisnis lainnya yang kehilangan omset karena matinya listrik, namun diskursus yang dibangun adalah dalam perspektif media sosial), mereka memanfaatkan media sosial sebagai lapaknya harus kelimpungan, lumpuh karena tidak bisa membuka lapak (media sosial). Gawai yang kehabisan daya dan hilangnya jaringan provider menyebabkan lapak/toko harus tutup secara paksa.

Buruknya, media sosial di negara ini menjadi tempat beradu argumen, diskusi, ataupun debat kusir para pengecut yang tak bisa mencapai titik temu, tema dengan pembahasan yang tak nyambung, diprovokasi para buzzer yang bukannya melerai. “Kalian berkelahi, kami semakin kaya”. Padahal debat warung kopi, teras masjid sehabis shalat maghrib dan isya, atau pematang sawah, pangkalan ojek, ataupun terminal menampilkan debaters yang memiliki kematangan emosional lebih baik dibandingkan para pengecut di media sosial. Mereka berani bertatap muka, menyampaikan argumentasi, kalah menang besok masih tetap ngopi bersama, minta dihutangi, atau mungkin meminta rokok satu sama lain. Mereka dewasa, karna saling berbagi rasa secara nyata.

Film Die Hard 4 (Live Free or Die Hard) yang diperankan oleh Bruce Willis sebagai Sersan John McClane dan Justin Long berperan sebagai seorang ahli komputer (hacker) bernama Matthew "Matt" Farrell, harus berhadapan dengan sekelompok teroris cyber yang mengambil alih dan mematikan beberapa fasilitas umum, seperti lampu lalu lintas, bursa efek, dan listrik, yang mana semuanya terkoneksi dalam jaringan internet, menciptakan kekacuan dan kepanikan di masyarakat. Media sosial terbagi oleh beberapa genggaman manusia. Mereka, dapat dengan mudah untuk mematikan media-media tersebut, yang membuat kita terisolir dan kehilangan pegangan karena telah mengalami ketergantungan terhadap media sosial, atau mungkin media-media sosial tersebut tidak lagi gratis tetapi berbayar, bisa juga mereka menutup media sosial tersebut dan beralih bisnis yang lain, dengan modal besar yang telah dimiliki, tentu mudah melakukan manuver yang tentu tidak kita duga. Mereka penguasa, lalu kita bisa apa?

Dunia tanpa media sosial pasti akan terjadi, tidak ada yang abadi, Pager, Friendster, BBM contoh nyata kematian dari produk sosial yang maya. Lalu, media sosial yang ada kini juga bisa mengalami hal serupa. Selain itu juga mungkin ada anak-anak di salah satu sudut kota kecil entah di belahan dunia yang mana, sedang berjuang keras membuat sesuatu yang baru dan menjadi trend setter menggantikan media sosial yang ada kini dan bukan berupa media sosial. Siapa yang tahu? Karna sesuatu takkan pernah mampu bertahan dari kematian!

(Rama Anugrah)