NewsBMB Thu, 10 May 2018
KOLOM PEMBACA

Homo Sapiens dan Media Sosial

img

Rama Darmawan

Facebook, whatsapp dan instagram menjadi pilihan media dalam bersosial bagi penulis, efektifitas dan selera tentunya menjadi alasan memilih ketiga aplikasi tersebut dalam melakukan interaksi sosial dengan ruang lingkup yang lebih luas. Padahal ada berbagai macam pilihan media untuk bersosial yang hadir pada kehidupan masa kini.

Media sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah 1. Alat; 2. Alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film poster dan spanduk; 3. Yang terletak di antara dua pihak (orang, golongan, dan sebagainya); 4. Perantara; penghubung.

Dalam buku “SAPIENS” yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, homo sapiens memiliki tiga keistimewaan dalam hal kemampuan berbahasa. Pertama, bahasa membuat homo sapiens memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan berkoordinasi, kedua bahasa dipakai untuk bergosip, dan ketiga bahasa digunakan untuk berimajinasi. Ketiga hal ini menjadikan homo sapiens merupakan genus homo yang mampu bertahan hidup hingga kini menurut Yuval Noah Harari.

Pada ruang lingkup media sosial yang maya, ruang klarifikasi mendapat porsi yang sangat minim. Rendahnya minat baca, ketertarikan pada judul-judul yang menggelitik rasa penasaran dan ruang opini terbuka  menjadikan media sosial bak air bah yang menyapu bersih apa saja yang dilewatinya.

Jika bercermin pada tiga kemampuan bahasa yang dimiliki oleh manusia seperti yang dituliskan oleh Yuval Noah Harari. Maka dalam kehidupan media sosial kekinian. Komunikasi, koordinasi, gosip dan imajinasi akan muncul pada ruang yang ekslusif (grup-grup yang dibentuk), kenapa ekslusif? Dikarenakan ruang-ruang komunikasi dan koordinasi tersebut akan tumbuh dan berkembang pada kecocokan antar manusia.

Gosip dan isu-isu yang berasal dari imajinasi tumbuh berkembang tanpa dibarengi adanya klarifikasi yang berimbang. Menjadi sangat menarik dikarenakan kita "tuna informasi" dan ruang-ruang ekslusif ini menjadi pemuas ketersediaan informasi.

Menjadi semakin kacau di luar zona eklusif mendapatkan informasi-informasi, hasil karya manusia berupa copy dan paste dengan tujuan sekedar menunjukkan eksistensi belaka. Dampaknya berupa perdebatan kusir yang berkepanjangan, ego-ego sentral pada pembahasan saya benar, anda salah dan hoax atau berita bohong yang semakin menjamur.

Pram pernah berkata, menulis adalah pekerjaan untuk keabadian. Pada masa kini, rekam jejak pada media digital berupa gambar, tulisan, video dan rekaman suara merupakan kerja-kerja keabadian yang dapat menimbulkan kekisruhan dimasa kini dan nanti seperti yang dikatakan oleh P. Swantoro “Masa Lalu Selalu Aktual”, seperti judul bukunya yang diterbitkan oleh Kompas.

Pada suatu titik, ruang-ruang ekslusif ini bisa menjadi gerakan sosial positif apabila bahasa-bahasa yang hadir merupakan kepentingan bersama, bukan kepentingan golongan ataupun pribadi. Karena arti sosial sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berkenaan dengan masyarakat. Bukan ruang-ruang ekslusif milik kelompok a, kelompok b, kelompok c ataupun kelompok lain semata. Melainkan milik gabungan seluruh manusia yang berada dalam lingkup masyarakat tanpa terkecuali.

Penulis menanti kedewasaan media sosial yang sedang dalam masa remaja, mencari jati diri dan kebijakan yang akan diraih seiring pengalaman-pengalaman yang terus-menerus memberikan hikmah. Untuk kehidupan sosial  yang adil dan beradab.