img

PERISTIWA | Wed, 9 October 2019

Film Joker Bukan Untuk Anak-Anak

4 hari setelah rilis di Indonesia (02/10/2019), saya berkesempatan untuk menonton film Joker. Kebiasaan yang saya lakukan sebelum menonton adalah mengecek rating IMDB film yang akan saya tonton. Film Joker mendapat rating 9.0/10. Sebuah rating yang cukup tinggi, menambah rasa penasaran untuk dapat segera melihat akting dari Joaquin Phoenix. Setelah rilis, tulisan-tulisan yang mengulas tentang Joker cukup banyak, bertebaran di dunia maya. Namun, saya tidak akan turut mengulas film tersebut, yang memang selama menonton film tersebut mampu mengayun jantung dan perasaan seiring dengan jalan ceritanya.

Kondisi studio saat itu penuh sekali, rating tinggi, spoiler, dan ulasan di jagat dunia maya, menjadi jawaban akan kondisi penuh tersebut. Namun, kekecewaan menghampiri, hampir 50 persen kursi yang terisi di studio merupakan anak-anak berusia di bawah 17 tahun. Setelah film usai dan lampu studio menyala, saya bergegas keluar studio. Beberapa kursi diisi oleh orang tua yang membawa anak-anaknya. Saya bergeleng heran, Joker adalah film dengan rating usia yang boleh menonton 17+. Saya tidak perlu menceritakan bagaimana jalan cerita dan emosi yang ditawarkan oleh Todd Philips. Tidaklah bijak membawa anak-anak dan remaja yang berusia di bawah 17 tahun menonton film ini. Beberapa status teman di jagat dunia maya juga menceritakan kejadian yang sama, ungkapan pertama adalah kekecewaan terhadap banyaknya anak-anak dan orang tua yang membawa anaknya kemudian menghimbau agar tidak menonton film Joker bersama anak ataupun "Joker bukan untuk anak-anak".

Entah, dikarenakan malas untuk mencari tahu kategori usia penonton sebuah film seperti saya pribadi, rasa penasaran yang cukup dalam, atau tidak mengenal klasifikasi (kategori) film berdasarkan usia penonton. Sehingga mengabaikan aturan-aturan atau lebih tepatnya himbauan-himbauan yang ada. Bukan pula pengalaman pertama, film John Wick juga merupakan film dengan kategori usia 17+, namun penonton film tersebut juga masih diisi oleh remaja yang belum berusia 17 tahun dan orang tua yang membawa anak-anaknya menonton film tersebut. Tidak bisa dipungkiri, film John Wick berisi adegan-adegan kekerasan yang membuat penonton akan bergidik ngeri, dan masih banyak pengalaman pribadi dengan film yang kategori usia 17+ namun penontonnya merupakan anak-anak, baik menonton dengan teman-temannya atau turut bersama orang tuanya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film (LSF), perihal kategori usia penonton dijelaskan pada Bagian Keempat tentang Penggolongan Usia,  pasal 32 berbunyi sebagai berikut, Film dan iklan film yang telah disensor disertai pencantuman penggolongan usia penonton yang meliputi: 

a. untuk penonton semua umur;

b. untuk penonton usia 13 (tiga belas) tahun atau lebih;

c. untuk penonton usia 17 (tujuh belas) tahun atau lebih; dan

d. untuk penonton usia 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih.

Pada pasal 32, LSF telah membagi usia penonton secara gamblang dan tiap film yang telah lulus sensor diberikan label sesuai dengan kategori usia penonton. Kita tidak perlu membaca isi pasal 33 s/d 36 yang menjelaskan lebih detail terkait dengan penafsiran tiap-tiap huruf pada pasal 32. Sekarang yang perlu dilakukan adalah cukup mencari tahu, film yang akan kita tonton termasuk dalam kategori usia yang mana. Apakah kita (red: ditujukan untuk anak-anak/remaja) sudah layak menonton film tersebut, ataukah tepat membawa anak-anak saat menonton film yang kategorinya hanya cocok untuk orang tuanya saja. Maka tanamkan dalam diri anda sejak sekarang. "Bijaklah anda dalam menonton, seperti anda bijak dalam membeli". 

 

(Rama Anugrah)

 

 

Do you like the information above?

Latest content