NewsBMB Wed, 10 June 2020
KOLOM PEMBACA

Petani Milenial? Meneruskan Generasi Atau Mati.

img

Samboja - Pertanian merupakan sektor utama dan memiliki peran penting pada perekonomian nasional dalam menyerap tenaga kerja, sumber pertumbuhan ekonomi dan penyumbang devisa. Tak cukup sampai disitu, sektor pertanian juga menggerakkan sektor lain dalam perekonomian sosial. Ini merupakan rantai ekonomi yang panjang dan berkesinambungan.

BPS merilis hasil Survei Pertanian Antar Sensus tahun 2018 (slide 1) menunjukkan bahwa jumlah petani di wilayah Kalimantan Timur hanya menduduki peringkat keempat dengan jumlah petani sebanyak 217.638 jiwa. Kalah dari 3 (tiga) Provinsi lainnya yakni, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dengan jumlah berturut-turut 685.076 Jiwa, 288.868 dan 472.067 jiwa, serta hanya unggul dari Provinsi termuda yang ada di Pulau Kalimantan, yakni Kalimantan Utara dengan jumlah petani sebanyak 51.399 jiwa.

Kemudian terdapat data menarik lainnya yang kita dapat dari hasil Survei Pertanian Antar Sensus tahun 2018 oleh BPS (slide 2). Profesi petani merupakan pekerjaan yang apabila mengacu pada Undang-Undang Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan (batas usia pemuda dimulai dari usia 16-30 tahun) adalah pekerjaan orang-orang tua.

Mari kita kerucutkan pada Provinsi Kalimantan Timur, Kelompok petani berusia di bawah 25 tahun dan rentang usia 25-34 tahun berturut-turut sebanyak 2.031 jiwa dan 61.654 jiwa. 65.774 jiwa merupakan jumlah petani dengan rentang usia 35-44 Tahun. Terakhir petani dengan usia lebih dari 45 tahun berjumlah 63.471 jiwa. Hal ini menandakan bahwa, usaha pertanian masih belum menjadi pilihan bagi generasi muda.

Maka tentunya ini merupakan sesuatu hal yang mengkhawatirkan bagi keterbutuhan pangan di wilayah Provinsi Kalimantan Timur yang berpenduduk 3.721.389 jiwa (sumber data: BPS Kalimantan Timur tahun 2019). Ketahanan pangan Provinsi Kalimantan Timur sangat bergantung dengan kiriman dari Sulawesi ataupun Jawa. Namun satu hal yang mesti dicatat adalah Kalimantan Timur tidak “berdaulat secara pangan”. Kita bergantung pada luar daerah, kita tidak bisa menentukan seberapa banyak dan seberapa baik kebutuhan pangan yang ingin kita miliki.

Seperti yang telah disampaikan pada awal tulisan, bahwa pertanian merupakan rantai panjang ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja, ada perputaran uang besar disana. Jika kita berfokus serta tidak bergantung pada Migas dan Pertambangan. Maka pertanian menjadi jalan terbaik, pemuda tani menjadi salah satu fokus perhatian pemerintah dan masyarakat. Dengan memberdayakan pemuda ada harapan menjadikan pertanian lebih produktif dan penuh inovasi. Informasi dan inovasi tersedia secara luas di platform-platform media internet. Perguruan tinggi harus siap sedia mengimplementasikan Tri Darma Perguruan Tinggi, dan Pemerintah mau mengalokasikan Dana Daerah untuk pengembangan dan pemberdayaan pertanian di Benua Etam.

Pada masa pandemi Covid-19, dilansir dari Kaltimkece.id Kalimantan Timur merupakan Provinsi terbanyak yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja di luar Pulau Jawa, sektor perhotelan, pertambangan dan perdagangan merupakan penyumbang angka tersebut. Pertambangan yang notabene menjadi primadona ekonomi Kaltim, mengalami gangguan maka berimplikasi langsung pada ekonomi Kaltim secara luas.

Narasi-narasi yang mengatakan ingin berfokus pada pertanian harus segera diimplementasikan sejak hari ini. Tidak perlu menunggu sektor migas dan pertambangan tumbang satu persatu. Pasca Covid-19 mari kita mulai berfokus dengan menaikkan minat dan usaha pertanian bagi bonus demografi Indonesia berupa pemuda dalam hal pertanian, berikan paket-paket pendampingan dan stimulus untuk mengembangkan usaha pertanian di wilayah Kalimantan Timur. Kolaborasi dan kolaboraksi menjadi sebuah 'mantra' yang wajib dilakukan.

Memang tantangan nyata yang akan dihadapi dalam menaikkan minat dan usaha pertanian bagi pemuda adalah keengganan untuk mengelola dan ketersediaan lahan yang kian menyempit, manisnya sektor industri, perkantoran yang menawarkan gaji tetap setiap bulan. Namun, tak pernah ada perjuangan yang mudah, apalagi merubah paradigma berpikir. Namun, semua bisa dilakukan, jika kita ingin, mau dan berkomitmen. Maka, siapkah anda Pemuda, menjadi seorang Petani Milenial?

(Rama Anugrah)

(Slide 1) Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Menurut Provinsi di Kalimantan dan Kelompok Umur Petani Utama (Laki-laki + Perempuan), Tahun 2018
(Slide 2) Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Berdasarkan Kelompok Umur Petani Utama di Provinsi Kalimantan Timur (Laki-laki + Perempuan), Tahun 2018

Indonesia Samboja Petani Milenial