img

  Rencana desain Ibu Kota Baru

KOLOM RAMA | Thu, 3 October 2019

Suara Setempat Tentang Pemindahan Ibu Kota

Sudah satu bulan lebih, pengumuman Ibu Kota Negara Baru dilakukan oleh Presiden Negara Republik Indonesia, Joko Widodo (26/08/2019) di Istana Negara. Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi pilihan lokasi Ibu Kota Negara baru. Suara pemilik toko kelontong, suara petani, nelayan, karyawan swasta dan beragam profesi lainnya dicalon Ibu Kota Negara baru menarik juga untuk didengarkan. Bincang-bincang ringan ini tidak serta merta ditulis secara langsung tetapi mengalami proses penyempurnaan dan penyesuaian bahasa namun tidak menghilangkan maksud dan tujuan dari orang yang bersangkutan.

Kami biasa menyajikan informasi singkat, namun untuk tema ini, sengaja mengulas sedikit lebih panjang. Karena diskursus yang ingin dibangun dari masyarakat lokal ke seluruh wilayah Indonesia. Jadi apa saja hal-hal yang diperbincangkan masyarakat lokal jika Ibu Kota Negara pindah ke Kalimantan Timur

  • Pendidikan

Hal utama yang menjadi sorotan jika benar Ibu Kota pindah ke Kalimantan Timur khususnya wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara (Samboja) adalah pendidikan. Kualitas pendidikan yang membaik, menjadi harapan dan mimpi yang sudah ada di depan mata bagi masyarakat Calon Ibu Kota Negara. Pendidikan yang baik, dianggap mampu meningkatkan taraf hidup, dimana persaingan global semakin terbuka.

Di satu sisi, kekhawatiran terkait dengan mahalnya biaya pendidikan, dan kalah bersaingnya peserta didik lokal dengan para pendatang yang sudah mengalami iklim dan sistem pendidikan yang kompleks. Karena, jelas sekali perbedaan iklim yang ada di wilayah Kalimantan dengan Jawa. Namun, masyarakat tidak mampu berbuat banyak, berkeluh kesah, bersuara, ataupun berpangku tangan takkan merubah keputusan Presiden. Mau tidak mau harus mau, dan mampu bersaing menjadi masyarakat Ibu Kota.

Meningkatkan kualitas diri, melatih soft skill semisal dengan kemampuan bahasa asing yang diperbaiki dan diperkaya menjadi modal berharga bagi masyarakat setempat. Dan hal ini kerap diutarakan oleh orang-orang yang lebih tua, kepada rekan-rekan pemuda jika berkumpul dalam satu kesempatan.

  • Listrik dan Air

Mati listrik, kualitas air yang tidak layak dan kerap tidak mengalir menjadi rutinitas yang kerap terjadi di wilayah Ibu Kota Negara baru. Walau tidak setiap hari, namun tidak lengkap rasanya jika dalam satu bulan kedua kebutuhan dasar di atas tidak terjadi. Kita ingat sekali, (04/08//2019) kejadian mati listrik di Jawa dan Bali yang menjadi viral di seluruh Indonesia. Menarik, setelah kejadian itu, masyarakat calon Ibu Kota Negara baru,  menyindir “baru satu hari mati lampu sudah ribut se-Indonesia, sini jalan-jalan ke Kalimantan, hampir tiap hari kami merasakan mati lampu”. Beberapa masyarakat menyampaikan, jika Ibu Kota pindah ke Kalimantan, persoalan listrik dan air bersih akan menjadi perhatian pemerintah pusat dan juga daerah. Ini berdampak positif kepada kita, sehingga persoalan listrik dan air bersih tidak perlu lagi dikhawatirkan. Masyarakat secara garis besar sepakat jika Ibu Kota pindah, kedua persoalan ini diharapkan mampu teratasi.

  • Infrastruktur jalan

Bukan menjadi rahasia umum, jika masyarakat Kalimantan Timur akrab dengan akses jalan rusak. Pemindahan Ibu Kota diharapkan mampu meningkatkan kualitas jalan di wilayah Kalimantan Timur ke taraf baik. Integrasi satu daerah dengan daerah lain dapat dengan mudah dilalui. Namun, sebagian orang juga berkata, maka bersiaplah menghadapi macetnya Ibu Kota, polusi udara dan bisingnya kendaraan. Memang tidak bisa dipungkiri, sebagian besar wilayah Kalimantan Timur, populasi kendaraan tidak sepadat di pulau Jawa. Sekali lagi, ini adalah suara masyarakat yang memiliki pandangan berbeda terhadap suatu hal, dan ini merupakan sesuatu hal yang lumrah dan dilindungi oleh negara.

  • Ibu Kota tidak ramah untuk “kami” (red: orang kecil)

Terdapat suara-suara yang ingin menepi dari ramainya Ibu Kota, beberapa warga melontarkan ungkapan secara spontan bahwa tugas di sini (red: Kalimantan Timur) supaya jauh dari Ibu Kota/keramaian, eh malah sekarang keramaiannya datangin aku. Petani menyampaikan bahwa mereka semakin khawatir dengan berkurangnya lahan-lahan tempat menggarap pertanian ataupun perkebunan. Selama ini, mereka telah terdesak dengan aktifitas tambang dan sawit, kini harus kembali berhadapan dengan ancaman pembangunan rumah dan gedung.

Mereka membayangkan bahwa, kebutuhan pangan di Ibu Kota baru tetap akan berasal dari luar daerah (red: Jawa dan Sulawesi).  Dikarenakan semakin menyempitnya lahan pertanian yang harus mereka garap, dan kebutuhan pangan di pasar akan semakin besar seiring dengan eksodus manusia ke Ibu Kota baru, dengan nada pesimis mereka berkata, “kami juga yang akan terpinggirkan”.

Susahnya lapangan pekerjaan juga menjadi kekhawatiran. Pusat negara menjadi destinasi bagi para pencari rejeki, ditambah dengan arus globalisasi yang takkan bisa dibendung. Selain itu, Tindak Kriminal menjadi kekhawatiran masyarakat setempat yang tidak familiar dengan hal tersebut. Belakangan, setelah penetapan Ibu Kota baru, eskalasi kejahatan sedikit meningkat yang menyebabkan masyarakat menghubungkan hal tersebut dan membandingkan dengan jika wilayahnya benar-benar menjadi Ibu Kota.

Ada masyarakat yang memiliki pemikiran bahwa wilayah sekitar Ibu Kota akan menjadi kota jasa dan industri, sehingga lapangan pekerjaan akan terbuka lebar. Tidak sedikit juga yang menampik hal tersebut. Mereka tetap yakin bahwa sektor industri akan tetap tumbuh dan berkembang di Pulau Jawa. Dikarenakan Ibu Kota Negara baru hanya berupa pusat pemerintahan saja, dikarenakan selain rencana pemindahan Ibu Kota Negara baru, pemerintah juga menyiapkan pembangunan 10 wilayah metropolitan baru.

Tema ini memang sangat kompleks dan cukup panjang diskusi dan ide-ide yang ditawarkan oleh berbagai lapisan masyarakat. Dikarenakan ini merupakan penopang kebutuhan hidup masyarakat, apakah mereka mampu untuk membeli sandang, pangan dan papan yang layak bagi dirinya dan keluarga. Namun, yang pasti lapangan kerja, jasa dan industri kreatif akan terbuka lebar seiring dengan meningkatnya jumlah manusia di suatu daerah. Selama mau berusaha dan berinovasi, dan meningkatkan kualitas diri, masyarakat setempat dapat bersaing dan menjadi “pemain” di wilayahnya sendiri.

Beberapa hal yang menjadi pro kontra di tengah-tengah masyarakat dalam menyikapi keputusan pemerintah Indonesia dalam hal pemindahan Ibu Kota Negara. Masih banyak suara masyarakat lokal yang dapat dielaborasi agar dapat didengar oleh masyarakat secara luas, dan akan kita bahas pada tulisan yang lain. Dalam tulisan ini, kami juga menyediakan polling bagi pembaca terkait dengan setuju atau tidak dalam hal pemindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia, dan ini merupakan bagian uji publik terhadap suatu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.

Semoga negeri kita, menjadi negeri yang berkembang, maju dan seluruh rakyatnya makmur sejahtera. Aamiin.

(Rama Anugrah)

Do you like the information above?

Latest content